Aptisi: Bina PTS, Jangan Binasakan!

BANDARLAMPUNG – Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) Lampung M. Badri Burhan meyakinkan, bukan dirinya yang mengadukan kondisi PTS (perguruan tinggi swasta) di provinsi ini pada Kopertis Wilayah II. Meski begitu, ia membenarkan data-data ’’penyakit’’ yang dibeber Kopertis.

Menurut dia, pemaparan Kopertis pada sosialisasi program kerja di Hotel Marcopolo, Kamis (20/3), merupakan kondisi riil yang terjadi di Lampung. ’’Jangan karena hal ini, PTS dibinasakan. PTS harus dibina,’’ pintanya kemarin (21/3).

Badri menerangkan, problem di PTS sangat kompleks. Ia menduga permasalahan-permasalahan itulah yang menjadi penyebab munculnya empat penyakit dimaksud. ’’Karenanya, Kopertis harus menanyakan langsung apa kesulitannya pada PTS,’’ sarannya.

Dia menjelaskan, koordinator PTS atau kopertis memiliki peran untuk membina, mengontrol, dan membenahi persoalan yang melilit PTS. Ibaratnya, Kopertis adalah dokter bagi penyakit di PTS. ’’Jadi, sangat tidak arif kalau Kopertis tanpa bertanya langsung menyalahkan,’’ ucapnya.

Empat penyakit PTS dimaksud, pertama 61 dari 74 PTS digolongkan sakit sedang hingga parah. Hal itu didapat dari ratio dosen dan mahasiswa yang timpang, penyelenggaraan program studi (prodi) di Luar domisili (kelas jauh), dan pelatihan jarak jauh (online) tanpa izin.

Diah Natalisa, koordinator Kopertis Wilayah II (Sumatera Selatan, Lampung, Bengkulu, dan Bangka Belitung), menerangkan, syarat perguruan tinggi yang baik. Untuk prodi eksakta ratio dosen dan mahasiswa 1:30. Sedangkan non-eksakta 1:45.

Selain itu, memiliki izin operasional dari Ditjen Dikti; melaporkan data pangkalan data pendidikan tinggi (PDPT) per semester; memiliki manajemen yang baik, dan mempunyai akreditasi yang dilegalisasi Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT).

Faktor tidak adanya konflik internal perguruan tinggi dengan yayasan juga menjadi pertimbangan. Di samping mempunyai statuta yang baik, memiliki sistem, tidak mempunyai proses regulasi pembelajaran kelas yang dipadatkan seperti kelas eksklusif, serta tidak memiliki dosen berstatus ganda atau merangkap guru di sekolah.

Penyakit kedua, kampus jarang melaporkan data PDPT dengan berbagai alasan. Mulai pangkalan data rusak hingga lantaran ganti operator. Parahnya, enam PTS tak pernah merekapitulasi PDPT hingga di atas 4 semester mulai 15 April tahun lalu.

Yang ketiga, sebanyak 15 PTS memiliki dosen berstatus ganda. ’’Untuk membuat jera, Kopertis telah meminta pihak kampus mengeluarkan dosen dan tidak memberikan akses pengangkatan sertifikasi dosen (serdos),’’ paparnya.

Keempat dilihat dari status akreditasi. Dari 74 PTS dengan 208 prodi, hanya 112 prodi yang sehat. Sisanya, 17 segera kedaluwarsa, 27 prodi sedang proses reakreditasi 27 prodi, dan 7 prodi kedaluwarsa. Sementara itu, PTS yang belum terakreditasi dan sudah mengajukan borang ada 31 prodi dan yang belum 14 prodi. (fit/p2/c3/ade)

 

Sumber : Radar Lampung

 

Comment :

Leave Your Footprint