APTISI MENYELENGGARAKAN SEMINAR NASIONAL DENGAN TEMA KESIAPAN PERGURUAN TINGGI DI INDONESIA DALAM MEMASUKI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN 2015

DSCN0666

Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) menyelenggarakan Seminar Nasional dengan tema Kesiapan Perguruan Tinggi di Indonesia dalam Memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015, bertempat di Puri Ratna Grand Sahid Jaya Hotel, Jakarta, hari Kamis, (28/8/2014), dihadiri 160 peserta terdiri dari para pimpinan perguruan tinggi swasta dan ketua yayasan penyelenggara perguruan tinggi swasta.

Tujuan utama seminar ini adalah untuk meningkatkan kesadaran seluruh pemangku kepentingan di bidang pendidikan tinggi, khususnya perguruan tinggi swasta (PTS) dalam menyambut berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada tahun 2015. Selain itu, seminar ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi tantangan dan peluang bagi PTS, serta mendiskusikan dan menyiapkan sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang layak bersaing dengan Negara ASEAN lainnya. Para pembicara dalam seminar tersebut adalah :

DSCN0637

Dr. Ir. Edi Efendi Tedjakusuma, MA (Deputi Bidang Evaluasi Kinerja Pembangunan Kementerian Perencanaan Pembangunan/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional). Membuka Seminar Nasional secara resmi  ditandai dengan pemukulan gong.

DSCN0652

Ir. Chaerul Anwar, MM (Dirjen Pembinaan Produktivitas Kemetrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI).

 DSCN0653

Prof. Dr. Ir. Musliar Kasim, MS (Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI)

 DSCN0663

Prof. Datuk Mohd Yusof Bin Kasim (Rector Insaniah University College Kedah, Malaysia).

DSCN0667

Ir. Sumarna F. Abdurahman M.Sc (Wakil Ketua Badan Nasional Sertifikasi Profesi)

 DSCN0668

Prof. Dr. Thomas Suyatno (Ketua Umum ABP PTSI)

DSCN0636

Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec (Ketua Umum APTISI)

 

Sebagai refleksi dari hasil seminar tersebut, APTISI yang mewakili aspirasi lebih dari 3000 Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Indonesia, menyampaikan hal-hal sebagai berikut :

Pelaksanaan AEC sudah di depan mata, sudah sangat dekat, yaitu pada 31 Desember 2015. AEC akan mentransformasi ASEAN menjadi kawasan yang bebas bagi keluar masuknya barang, jasa investasi, tenaga kerja terampil dan modal. Pelaksanaan AEC 2015 memberikan konsekuensi bagi Indonesia terhadap tingkat persaingan yang semakin terbuka dan tajam, terutama dalam perdagangan barang dan jasa di kawasan ASEAN. Beberapa jasa yang nantinya akan ikut berkompetisi dalam pasar tunggal AEC ialah jasa di bidang pendidikan, termasuk pendidikan tinggi, jasa tenaga kerja, dan lain sebagainya.

Para pemangku kebijakan di lingkungan perguruan tinggi harus siap dan merespon era pasar tunggal ASEAN tersebut. Apabila pemberlakuan AEC disikapi secara positif, maka bukan tidak mungkin banyak PT Indonesia, lebih-lebih PTS, tersisihkan dan menjadi tamu di negeri sendiri. Para pengelola perguruan tinggi, dan segenap sivitas akademikanya, perlu melakukan akselerasi daya saingnya menghadapi AECUntuk itu, peran dari perguruan tinggi dalam meningkatkan kesiapan kita menghadapi AEC adalah :

  • Meningkatkan kualitas dan cakupan penelitian perguruan tinggi agar dapat memberikan saran kebijakan dan memasukan kepada pemerintah dan swasta tentang langkah dan peluang yang dapat diraih oleh Indonesia di pasar ASEAN; atau tentang strategi negara ASEAN lain yang harus diwaspadai oleh Indonesia.
  • Memberikan edukasi kepada masyarakat sekitar tentang AEC 2015, yang dapat diselipkan dalam program pengabdian masyarakat atau kuliah kerja nyata.
  • Memperkuat Kapasitas Kelembagaan Perguruan Tinggi Menghadapi AEC, bukan saja pada aturan-aturan main yang ada, namun pada organisasi secara keseluruhan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah sejak lama memberikan dorongan pada upaya penguatan itu, yang diintroduksi lewat berbagai aktivitas untuk mengarahkan pada Good University Governance atau Tatakelola (Tata Pamong) Perguruan Tinggi yang Baik.
  • Selain itu beberapa langkah yang lain adalah melakukan penjaminan mutu dan akreditasi sesuai standar nasional dan internasional.
  • Dalam mengembangkan kurikulum, selain memasukkan pendidikan soft skill dan entrepreneurship, serta sertifikasi, juga orientasi kepada Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) dan Kerangka Kualifikasi Regional (KKR) merupakan suatu keharusan. Oleh karena itu sosialisasi, khususnya tentang KKNI harus lebih ditingkatkan.
  • Kerjasama-kerjasama baik dengan sesama perguruan tinggi dalam negeri maupun dengan perguruan tinggi luar negeri, khususnya perguruan tinggi ASEAN sangat perlu dalam rangka meningkatkan kapasitas perguruan tinggi kita, baik melalui proyek-proyek penelitian bersama. Joint seminar, menghadirkan dan menjadi dosen tamu internasional, pertukaran mahasiswa, mutual recognition arrangemment (MRA) dan sebagainya.

Oleh karena itu Indonesia harus segera berbenah diri dan bergegas untuk meningkatkan kesiapannya. Kata kunci dari kesiapan tersebut adalah “Daya Saing”. Indonesia Perlu segera meningkatkan daya saing, agar kita dapat memanfaatkan peluang pasar yang terbuka dan memanfaatkan potensi Indonesia sebagai basis produksi. Dengan demikian, AEC nantinya dapat mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Namun untuk menghadapi AEC tersebut Indonesia masih menghadapi beberapa persoalan serius, dan ini harus menjadi perhatian serius, di antaranya :

  • Sampai saat ini sebagian besar masyarakat Indonesia masih belum paham tentang adanya AEC, apalagi untuk memanfaatkan peluangnya.
  • Sementara itu, di sisi neraca perdagangan Indonesia dengan ASEAN, Indonesia mengalami defisit dengan trend yang makin meningkat.
  • Meskipun berdasarkan indeks daya saing yang dikeluarkan oleh World Economic Forum baru-baru ini, Indonesia mengalami peningkatan dari 50 pada tahun 2012-2013 menjadi peningkatan ke-38 pada tahun 2013-2014, namun posisi Indonesia saat ini masih berada pada satu peringkat persis di bawah Thailand, di peringkat 37.
  • Selain itu, secara khusus, daya saing tenaga kerja Indonesia saat ini saat ini masih rendah dibandingkan Singapura, Thailand, Malaysia, Vietnam, dan Filipina. Menurut Asian Productivity Organization (APO), dari setiap 1.000 tenaga kerja Indonesia hanya ada sekitar 4,3% yang terampil, sedangkan Filipina 8,3%, Malaysia 32,6% dan Singapura 34,7%.
  • Tantangan internal, yaitu bervariasinya tingkat pembangunan daerah dan kesiapannya dalam menghadapi AEC 2015. Hal ini tentunya terkait erat dengan kondisi geografis yang bervariasi dan penyebaran pembangunan yang relatif belum merata.
  • Khusus yang menyangkut perguruan tinggi (PT), kualitas PT kita masih jauh tertinggal, baik dilihat dari pemeringkatan seperti Webometric, QS Star, masih belum ada yang menembus level 100 dunia. Hal ini merefleksikan rendahnya produktivitas dan kualitas penelitian dan publikasi para dosen di Indonesia.

Demikianlah, Perguruan Tinggi Indonesia tidak bisa bekerja seperti biasanya (Business as usual) untuk menghadapi AEC, melainkan harus bekerja ekstra keras agar bisa bertahan dan berkembang ditengah persaingan dengan negara-negara ASEAN lainnya.

 

Comment :

Leave Your Footprint