Lulusan ASEAN Bersaing

600.000 Lulusan Perguruan Tinggi Indonesia Menganggur

JAKARTA, KOMPAS – Masalah utama perguruan tinggi di Indonesia menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 bukan pada persaingan antar perguruan tinggi sesama anggota ASEAN. Masalah terbesar justru pada lulusannya yang akan bersaing ketat dengan lulusan dari perguruan tinggi anggota ASEAN lain untuk mengisi pasar kerja terbuka.

      Meskipun sebagian besar dari 3.485 perguruan tinggi swasta dan negeri Indonesia daya saingnya relatif lemah, tidak akan serta-merta terjadi persaingan antar perguruan tinggi. Hal itu karena tidak mudah bagi perguruan tinggi ASEAN untuk mendirikan atau membuka cabang perguruan tinggi di Indonesia. Dengan adanya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), tenaga kerja atau lulusan perguruan tinggi dari negara-negara ASEAN lain yang mempunyai kompetensi dan sertifikasi di bidang keilmuan menjadi terbuka.

      Ketua Umum Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia Edy Suandi Hamid di Jakarta, akhir pekan lalu, mengatakan arus tenaga kerja bebas merupakan salah satu elemen inti MEA yang meliberalisasikan lalu lintas tenaga kerja dan menghilangkan diskriminasi antar tenaga kerja dari ASEAN. Akibatnya, lulusan perguruan tinggi di Indonesia terancam semakin banyak menganggur karena kalah bersaing.

      “Lembaga pendidikan tinggi tidak bisa lagi hanya sekedar mengeluarkan ijazah tanpa melihat sejauh mana kompetensi di balik ijazah tersebut, juga kemampuan keterampilan yang melekat dan kemampuan lulusannya untuk memperoleh sertifikasi sesuai dengan keahliannya,” kata Edy.

      Saat ini, lebih dari 600.000 lulusan perguruan tinggi Indonesia menganggur. Pengangguran intelektual ini sebagian besar lulusan S-1, yakni 420.000 orang, dan sisanya lulusan diploma. Padahal, tambahan lulusan perguruan tinggi hampir satu juta orang per tahun. Mereka juga terancam banyak yang menganggur jika tidak siap bersaing dengan lulusan perguruan tinggi ASEAN yang sebagian di antaranya sudah masuk kaliber dunia. Perguruan tinggi itu antara lain National University of Singapore, Nanyang Technological University, Universiti Kebangsaan Malaysia, Chulalongkorn University Thailand, dan University of the Philippines.

 Indonesia Tertinggal

       Kualifikasi pendidikan angkatan kerja Indonesia juga masih tertinggal dibandingkan dengan negara seperti Singapura, Malaysia, Thailand, bahkan Filipina, dan dalam beberapa hal di bawah Brunei. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik per Februari 2014, dari total angkatan kerja 118,17 juta orang, jumlah lulusan sekolah menengah atas 18,91 juta (15,25 persen), sekolah menengah kejuruan 10,91 juta (9,23 persen), diploma 3,13 juta (2,65 persen), dan sisanya dari universitas hanya 8,85 persen.

      Malaysia, pada 2012, memiliki jumlah angkatan kerja 13,12 juta, yang lulusan sekolah menengah mencapai 55,79 persen, sedangkan 24,37 persen adalah lulusan universitas dan diploma. Di Singapura (2012), dari angkatan kerja sebesar 3,22 juta orang, sebesar 49,9 persen adalah lulusan sekolah menengah, sedangkan lulusan universitas dan diploma 29,4 persen.

      Rektor Universitas Flores Stephanus Djawanai mengatakan, dengan keterbatasan kemampuan keuangan perguruan tinggi, khususnya perguruan tinggi swasta (PTS) dan daya beli masyarakat yang masih lemah, menjadi kewajiban pemerintah untuk memberikan lebih banyak dosen negeri untuk dipekerjakan di PTS, seperti tahun 1980-an. Saat ini, penambahan dosen dari pemerintah untuk PTS sangat terbatas (ELN)

 

Sumber : Kompas Cetak Terbit Senin (29/9/2014)  Halaman 11

Comment :

Leave Your Footprint