Pengangguran Masalah Serius

Lulusan Perguruan Tinggi Masih Perlu Bekali Diri

 

JAKARTA, KOMPAS – Pengangguran terdidik dari perguruan tinggi pada jenjang diploma ataupun sarjana yang masih tinggi menjadi ancaman serius dalam persaingan tenaga kerja menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015. Sejauh ini, kajian tentang lulusan perguruan tinggi di Indonesia dan relevansinya dengan dunia kerja belum selesai.

Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Direktorat Jenderal (Ditjen) Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Illah Sailah mengatakan, saat ini sedang diadakan tracer study (penelusuran rekam jejak alumni). Studi itu memberikan gambaran jejak lulusan perguruan tinggi dan relevansinya dengan dunia kerja.

      Dari studi itu didapat informasi penyerapan alumni di dunia kerja, perkembangan karier, dan sejauh mana pendidikan di perguruan tinggi membekali alumni untuk sukses di dunia kerja. “Belum selesai kajiannya,” kata Illah di Jakarta, Senin (29/9).

      Seperti diberitakan sebelumnya (Kompas, 29/9), saat ini, lebih dari 600.000 lulusan perguruan tinggi Indonesia menganggur. Pengangguran intelektual itu sebagian besar lulusan S-1, yakni 420.000 orang, dan sisanya lulusan diploma.

      Data Badan Pusat Statistik Februari 2014 mencantumkan pengangguran terbuka lulusan universitas di Indonesia berjumlah 398.298 orang. Jumlah itu setara dengan 4,31 persen dari total pengangguran terbuka sebanyak 7.147.069 orang.

      Terkait kemampuan perguruan tinggi menyiapkan lulusan yang dapat bersaing di pasar kerja ASEAN, Illah mengatakan, Ditjen Pendidikan Tinggi menyiapkan program student mobility dengan sistem alih kredit. Mahasiswa bisa kuliah di perguruan tinggi negara-negara ASEAN selama satu semester atau lebih dan perolehan kreditnya diakui. Ada pula sistem uji kompetensi untuk tenaga kesehatan. Hal itu agar perawat, bidan, dokter, dan dokter gigi memiliki kompetensi untuk bersaing dengan tenaga kesehatan dari negara asing.

 Serius

      Ketua Umum Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia Edy Suandi Hamid mengingatkan agar pemerintah serius menyiapkan rencana tenaga kerja. Dengan demikian, diketahui perkiraan kebutuhan lulusan perguruan tinggi dalam bidang-bidang yang dibutuhkan. “Pembukaan program studi lebih mengikuti tren. Sekarang ini, misalnya, menjadi guru diminati, program pendidikan guru dibuka di mana-mana, “kata Edy.

      Demikian juga program studi ekonomi yang dimiliki hampir semua perguruan tinggi, harus bisa dikaji kebutuhannya. Jika berlebih, hanya akan menimbulkan pengangguran terdidik. Menurut Edy, dengan acuan rencana tenaga kerja, terjadi sinergi antara pemerintah (Kementerian Tenaga Kerja, Badan Pusat Statistik, dan Kemdikbud), dunia usaha, serta perguruan tinggi.

      Terkait tracer study, menurut Edy, belum semua perguruan tinggi serius melakukannya. Umumnya, pelaporan perguruan tinggi lebih untuk kebutuhan akreditasi dibandingkan untuk memotret keterkaitan perguruan tinggi dengan dunia kerja.

 Pilih-pilih

      Keinginan mencari pekerjaan sesuai dengan minat, bakat, dan ilmu membuat wisudawan rela menunggu hingga satu tahun, bahkan lebih. Sementara menunggu, mereka membekali diri dengan kursus bahasa asing dan memperluas jaringan. Mereka menyadari, untuk bersaing di era ekonomi terbuka dibutuhkan keterampilan, termasuk berbahasa asing, seperti bahasa Inggris.

      “Pekerjaan yang spesifik untuk ilmu yang saya pelajari masih terbatas. Saya tak berminat masuk pekerjaan yang umum, seperti di bank atau perusahaan swasta,” kata I Nyoman Alit Anggara (24), alumnus Hubungan Internasional Gadjah Mada, Yogyakarta, Senin.

      Hal senada diungkapkan Arum Sejati (24), alumnus Fakultas Hukum UGM. Menurut dia, persaingan mendapatkan pekerjaan berat karena jumlah pekerjaan jauh lebih sedikit dibandingkan wisudawan. “Pekerjaan yang saya inginkan pembukaan lowongannya sedikit, hanya beberapa tahun sekali,” ujarnya.

      Sambil menunggu, mereka meningkatkan keterampilan. Syukri (24), sesama alumnus Fakultas Hukum UGM, mengungkapkan, sambil menunggu pembukaan lowongan untuk calon hakim pada Oktober, dia kursus bahasa Inggris dan memperluas jaringan. Rieska Indah Mulyani, sarjana asal Institut Pertanian Bogor, juga mengikuti kursus agar mendapatkan skor memuaskan dalam tes Internasional English Language Testing System. (ELN/A07/A15).

 

Sumber : Kompas Cetak Terbit Selasa, (30/9/2014) Halaman 11

Comment :

Leave Your Footprint