Malang (Antara Jatim) – Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) Jawa Timur, mendorong seluruh perguruan tinggi swasta di provinsi itu mengupayakan rasio yang ideal antara jumlah dosen dan mahasiswa di kampus masing-masing.”Rasio ideal antara jumlah dosen dan mahasiswa ini bukan hanya milik perguruan tinggi negeri (PTN), perguruan tinggi swasta (PTS) pun juga kami dorong untuk melakukan hal yang sama, bahkan Aptisi akan melakukan penertiban secara ketat terkait regulasi yang diterapkan di perguruan tinggi (PT),” tegas Ketua Aptisi Jatim, Prof Suko Wiyono di Malang, Rabu.

Selama ini, lanjutnya, rasio antara dosen dan mahasiswa yang tidak seimbang di PTN dikritik. Oleh karena itu, PTS pun jangan sampai merusak kebijakan ini, apalagi kalau sampai mengeluarkan gelar sendiri yang tidak umum. “PTS yang mengeluarkan gelar sendiri itu ada, ini kan aneh, sebab gelar itu yang mengeluarkan Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti), sehingga Aptisi akan melakukan penertiban,” tegasnya.

Selain mendorong rasio dosen dan mahasiswa agar seimbang, Suko Wiyono juga menyoroti jumlah penerimaan mahasiswa baru di Universitas Brawijaya (UB) Malang yang dinilai “gila-gilaan” karena mencapai belasan ribu setiap tahun dan mengakibatkan banyak PTS yang tidak kebagian mahasiswa. Tambahan 300 mahasiswa baru saja, bagi PTS akan terasa sekali.

Menurut Suko, seharusnya UB juga tidak perlu membuka kelas jarak jauh di sejumlah kota, bahkan di tingkat kecamatan, seperti di Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang. “Mengidamkan kampusnya berkelas internasional atau menjadi perguruan tinggi kelas dunia pun tidak ada larangan, tapi jangan dengan menambah kelas jarak jauh di kecamatan, bahkan dulu saya kira di Ngantang itu pasar, la kok ternyata mahasiswa UB,” tandasnya.

Mestinya, tegas Suko, UB membesarkan kampus yang ada di tengah Kota Malang saja, tidak perlu membuka kelas jarak jauh di sejumlah kota, seperti Jakarta, Kediri dan Pasuruan, apalagi sampai merambah wilayah kecamatan. Jika PTN asaemuanya seperti ini, kapan PTS bisa berkembang dan menjadi kampus yang besar serta berkualitas.

Menanggapi sorotan Aptisi Jatim tersebut, Rektor UB Prof Muhammad Bisri, mengatakan pihaknya sudah mengurangi jumlah penerimaan mahasiswa baru (maba) hingga 20 persen, bahkan ke depan akan distagnasi menjadi 10 ribu maba yang tersebar di 159 program studi.

“Secara bertahap kami memang akan mengurangi jumlah maba dari strata 1 (S1) dan akan memperkuat maba program magister dan doktoral,” ujarnya.

Pada tahun 2012, UB menerima maba sebanyak 14.401 untuk program sarjana (S1), tahun 2013 sebanyak 14.081 dan tahun 2014 sebanyak 11.033 maba.(*)