Perguruan Tinggi Muhammadiyah Perlu Revitalisasi

IMG-20141015-WA001

IMG-20141015-WA000

IMG-20141015-WA002(1)

PALU  – Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) perlu melakukan revitalisasi diri dan seharusnya bisa berdiri di garda depan untuk pengembangan pendidikan tinggi di tanah air. Ini mengingat jumlah PTM adalah terbesar dibanding PT lain di Indonesia, termasuk dibandingkan PTN. Namun dari sisi kualitas, PTM harus terus memacu diri, walaupun dua perguruan tingginya sudah berakreditasi unggul (“A”) atau melampaui Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SNPT).

Hal itu disampaikan Ketua Umum APTISI (Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia) Prof Edy Suandi Hamid dalam Milad (Dies Natalis) ke-31 Universitas Muhammadiyah Palu di kampus tersebut  Selasa (14/10). Milad yang dihadiri Wakil Gubernur Palu Sudarto SH dan Koordinator Kopertis Wilayah IX Prof Andiniartiningsih, juga dilakukan bersamaan dengan Wisuda Sarjana sebanyak 470 orang yang dilakukan oleh Rektor Dr Heru Wardoyo.  UM Palu yang berdiri tahun 1983 ini telah meluluskan 30.439 alumni dari 18 program studi yang dimilikinya.

Dari sisi kuantitas, PTM yang mencapai 172 buah, termasuk 13 buah yang dibawah organisasi perempuan Muhammadiyah Aisyiyah, dan menampung sekitar 10 persen dari total mahasiswa se-Indonesia. Jumlah ini  lebih besar dari seluruh jumlah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di bawah Kemendikbud, yang hanya 102 buah, dan di bawah Kemenag yang hanya 50 buah. Dengan kepemilikian PT sebanyak itu, Muhammadiyah bukan saja ormas terbesar di Indonesia, bahkan di dunia, yang memiliki perguruan tinggi sebanyak itu di dalam satu atap. Berbeda dengan banyak ormas atau lembaga lain yang menaungi PT yang kepemilikan berada pada banyak yayasan, kepemilikan amal usaha di Muhammadiyah berada satu yayasan induk, yaitu Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Dikatakan, PTM ke depan PTM harus sudah lebih mengorientasikan pada peningkatan kualitas. Ini mengingat kualitas PTM tersebut sangat variatif, ada yang jauh di atas SNPT, namun masih banyak yang pas-pasan, dan bahkan ada yang masih di bawahnya . Namun potensi untuk meningkatkan kualitas ini sangat besar, karena faktanya dua PTM (Universitas Muhammadiyah Malang dan Yogyakarta) sudah terakreditasi institusi “A”, dan lima terakreditasi “B”, yang berarti melampaui SNPT. Ini jumlah yang signifikan mengingat di Indonesia baru 153 PTN/PTS terakreditasi, dan hanya 5 PTS terakreditasi “A” dan sekitar 40 terakreditasi  “B” dari lebih 3.300 PTS di tanah air.

PTM yang sudah di atas SNPT ini diharapkan menularkan dan mentransfer pengalaman pengelolaannya ke PTM lain yang lebih rendah status akreditasinya. Ini sangat mungkin dilakukan karena semua perguruan tinggi Muhammadiyah ini berada pada satu induk, yang dikoordinir Majelis Pendidikan Tinggi Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Mereka bisa saling membantu dalam hal manajemen maupun sumber daya manusianya.
Dari pencermatan, diketahui bahwa masalah PTM juga hampir sama dengan PTS lainnya, seperti kekurangan dosen,  terbatasnya sarana prasarana, kualitas dosen, rendahnya publikasi ilmiah, dan sebagainya.  Namun dengan keterbatasan tersebut, PTM masih bisa masuk dan eksis sampai ke pelosok daerah, dan tidak hanya di ibukota provinsi atau kota-kota besar. Patut diapresiasi, lanjut Ketua APTISI, upaya mencerdaskan anak bangsa yang dilakukan Muhammadiyah tidak hanya bagi komunitas muslim, melainkan juga umat lainnya. “Ini menunjukkan sifat inklusivitas Muhammadiyah. PTM berkembang di daerah-daerah Papua seperti di Manokwari, Jayapura, dan Sorong, ataupun di NTT seperti Kupang, dengan menampung mahasiswa paling banyak nonmuslim,” kata Edy Suandi Hamid.

 

Comment :

Leave Your Footprint