Prioritaskan Anggaran SDM

Berikan dosen insentif menarik untuk mengembangkan diri dan melahirkan karya akademik

     GRESIK – Ketua Umum Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Prof Edy Suandi Hamid mengatakan, penguatan dan pengembangan sumber daya manusia bagi lembaga pendidikan tinggi merupakan suatu keniscayaan. Ini karena lembaga pendidikan bersifat unik.

     “Karena itu, seharusnya anggaran terkait dengan sumber daya manusia bersifat dominan dalam belanja rutin perguruan tinggi, termasuk untuk mendorong studi lanjut ke jenjang lebih tinggi,” kata Edy dalam orasi ilmiah pada acara wisuda di Universitas Muhammadiyah Gresik di Graha Petrokimia Gresik, Jawa Timur, Rabu (1/10).

     Acara Wisuda dipimpin Rektor Universitas Muhammadiyah Gresik Tri Ariprabowo. Hadir dalam wisuda tersebut Bupati Gresik Sambari Halim dan Ketua DPRD Gresik Abdul Hamid.

      Lebih lanjut, Edy mengatakan, lulusan perguruan tinggi dipersiapkan untuk langsung masuk ke dunia kerja yang persaingannya semaki ketat. mereka harus memiliki kompetensi keilmuan dan juga kepribadian yang baik untuk bisa bekerja dan berkarier dengan baik.

     Karena itu, dosennya pun harus memiliki kompetensi yang tinggi serta mengikuti perkembangan yang ada. Dengan filosofi yang demikian maka berbagai program dan stimulus harus diberikan supaya dosen berminat menambah pengetahuannya dan berkarya, baik dalam bidang penelitian juga pengabdian masyarakat.

     Dosen diharapkan menghasilkan karya-karya akademik yang bermanfaat bagi masyarakat dan pengembangan ilmu pengetahuan. Hal ini bukan saja bermanfaat bagi dosennya, melainkan juga memperkuat kapasitas dan daya saing perguruan tinggi di tengah era perubahan di Tanah Air, ASEAN, dan Global.

     “Karena itu, penganggaran untuk pengembangan SDM harus mendapat prioritas dan dosen diberi insentif menarik untuk mengembangkan diri dan melahirkan karya-karya akademiknya,” kata Edy Suandi Hamid yang juga Wakil Ketua Majelis Pendidikan Tinggi Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

     Langkah demikian diperlukan agar dalam menghadapi persaingan yang ketat PT bisa tetap eksis dan lulusannya memiliki keunggulan agar mampu bersaing dan terserap dalam dunia kerja. Oleh karenanya, ke depan alumni perguruan tinggi di Indonesia, termasuk PTS, tidak bisa lagi hanya mengandalkan ijazah dalam mencari pekerjaan.

     Namun, mereka dituntut memiliki kompetensi dan keterampilan kerja yang baik. Sehingga, dapat terserap pasar kerja dengan cepat mengingat sangat kompetitifnya persaingan antar tenaga kerja, termasuk pesaing dari tenaga terdidik dari negara lain.

    Berdasarkan salah satu hasil sirvei menunjukan bahwa Indonesia menempati urutan keenam sebagai negara favorit bagi ekspatriat untuk mencari kerja. Tidak mengherankan jika tenaga kerja asing (TKA) yang ada di Indonesia jumlahnya cukup signifikan yang menduduki jabatan, mulai dari level profesional, konsultan, manager, direksi, supervisor, teknisi, hingga komisaris.

Dosen – Mahasiswa

     Sementara itu, Aptisi Jawa Timur mendorong seluruh Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di provinsi itu mengupayakan rasio yang ideal antara jumlah dosen dan mahasiswa di kampus masing-masing.

     “Aptisi akan melakukan penertiban secara ketat terkait regulasi yang diterapkan di perguruan tinggi,” kata Ketua Aptisi Jatim Prof Suko Wiyono di Malang, seperti dikutip Antara.

     Selain itu, lanjutnya, rasio antara dosen dan mahasiswa yang tidak seimbang di PTN dikritik. Oleh karena itu, PTS pun jangan sampai merusak kebijakan ini, apalagi kalau sampai mengeluarkan gelar sendiri yang tidak umum.

     “PTS yang mengeluarkan gelar sendiri itu ada, ini kan aneh, sebab gelar itu yang mengeluarkan Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti), sehingga Aptisi akan melakukan penertiban.” Tegasnya. ed: muhammad hafil

 

Sumber : Republika Cetak, Terbit Kamis (2/10), Halaman 5

Comment :

Leave Your Footprint