Waspadai Serbuan Dosen Asing ke Indonesia

KALANGAN perguruan tinggi di Indonesia baik perguruan tinggi negeri maupun perguruan tinggi swasta mesti mengantisipasi serta mewaspadai serbuan guru dan dosen asing yang bakal masuk ke Indonesia seiring dengan pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015.

      “Misalnya fenomena tersebut sudah terlihat menjelang MEA 2015, yakni sudah mulai dilakukan oleh orang-orang dari India yang bersedia menjadi guru dan dosen. Mereka bersedia meskipun dibayar dengan standar Indonesia,” ungkap Ketua Majelis Pendidikan Tinggi PP Muhammadiyah Chairil Anwar, di sela-sela seminar Teachers Professional Development for Global Competitiveness in University di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (UHAMKA) di Jakarta, akhir pekan lalu.

      Menurut Chairil, tenaga asing tersebut selain memiliki kompetensi, juga menguasai bahasa internasional seperti bahasa Inggris yang dibutuhkan masyarakat Indonesia pada era global. Hal itu akan membuat persaingan pasar kerja di Indonesia semakin ketat dan efeknya bisa mengancam eksistensi guru dan dosen di dalam negeri.

      “Karena itu, kalangan pendidikan tinggi di Indonesia terutama jajaran pendidikan di Muhammadiyah mesti meningkatkan kualitas guru dan dosen. Hal tersebut penting lantaran pada 2050, sebanyak 50% penghasilan dunia di sumbang oleh Asia dan Indonesia,” ungkap Chairil.

      Wakil Rektor Uhamka Gunawan Suryoputro menyarankan agar perguruan tinggi meningkatkan mutu dengan bekerja sama dengan berbagai universitas di luar negeri.

      Sementara itu, Dirjen Dikti Kemendikbud Djoko Santoso mengimbau agar perguruan tinggi mesti kreatif dan inovatif, misalnya, harus banyak menghasilkan karya-karya ilmiah yang diterbitkan jurnal yang terindeks di Scopus.

      “Apalagi sekarang ini masih lemah dan sedikit karya ilmiah perguruan tinggi kita di situ,” cetusnya.

      Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Ditjen Pendidikan Tinggi Kemendikbud Illah Sailah menambahkan, Indonesia tidak perlu takut menghadapi gempuran dosen asing yang masuk Indonesia lantaran dosen-dosen Indonesia pun siap mengempur mereka.

      “Pemerintah pun sudah siap dengan menerbitkan kerangka kualifikasi nasional Indonesia (KKNI),” ujarnya.

      Illah mencontohkan KKNI itu, antara lain mengatur mobilitas pengajar atau lecturer mobility, kerja sama U to U (universitas dengan universitas), serta kerja sama penelitian dan publikasi. (Bay/H-2)

 

Sumber : Media Indonesia Cetak, Terbit Selasa, 14 Oktober 2014, halaman 14

Comment :

Leave Your Footprint