“Anugerah APTISI” untuk Kampus Tanpa Rokok – Lima PTS memperoleh predikat “Model”.

IMG_20150409_114841
IMG_20150409_114906

IMG_20150409_114808

IMG_20150409_114744

IMG_20150409_114825

IMG_0288

IMG_0286

IMG_0283

IMG_0284

 

Lima perguruan tinggi dinobatkan  sebagai “Model” Kampus Tanpa Rokok (KTR). Lima kampus tersebut memperoleh Anugerah APTISI (APTISI Award) yang disampaikan oleh Ketua Umum APTISI Pusat Prof Edy Suandi Hamid dan Dr Illah Sailah Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan kemenristekdikti dalam Rapat Pengurus Pusat Pleno APTISI ke-7  di Batam, Jumat (2/4). Lima perguruan tinggi tersebut adalah IKIP Saraswati Tabanan Bali, Universitas Islam Sultan Agung Semarang Jateng, Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka) Jakarta, Universitas Islam Riau dan Universitas Bina Darma Palembang Sumsel.

Dari penilaian dewan juri yang diketuai Dr Sudibyo Markus sebanyak enam PTS memperoleh predikat “Maju”, dan dua PTS dengan predikat “Berkembang”. Di samping itu, sebanyak 16 PTS mendapatakan predikat “Tumbuh” atau “Harapan”.

Anugerah KTR yang baru pertama kali diberikan ini, menurut Ketua Umum APTISI, Prof Edy Suandi Hamid dimaksudkan untuk memberikan dorongan pada lembaga pendidikan tinggi untuk segera membersihkan kampus dari rokok, tidak menerima sponsor dari industri rokok untuk semua kegiatan di kampus, dan membangun kepedulian kampus atas bahaya merokok tersebut.
Dikatakan, rokok sudah sangat mengancam bangsa ini, karena para anak-anak, remaja, dan mahasiswa yang kesemuanya elemen generasi muda indonesia sudah distimulus untuk menjadi perokok melalui iklan dan kegiatan yang disponsori industri rokok yang masih sangat bebas di tanah air. Padahal rokok bukan saja menurunkan produktivitas, menimbulkan berbagai penyakit, namun juga bisa menjadi pintu masuk mengonsumsi narkoba. Oleh karena itu kampus seharusnya berada di garda depan dalam memerangi dan menekan jumlah perokok di tanah air, khususnya di kalangan generasi muda. Kita berharap pada saatnya nanti semua kampus bebas rokok.

​Indonesia merupakan potensi internasional bagi pemasaran  ​produk-produk zat adiktive yang meliputi rokok, alkohol dan narkoba. ​Ancaman terhadap narkoba sudah disadari oleh Pemerintah dan rakyat ​Indonesia, dengan dinyatakannya kondisi darurat nasional narkoba oleh ​BNN. ​Juga terhadap ancaman alkohol atau miras, termasuk miras oplosan.

​Namun ancaman bahaya produk ​tembakau berupa rokok, yang ​mengandung nikotin yang jelas-jelas sebagai zat adiktive, ironisnya masih ​jauh dari perhatian sebagian instansi pemerintah dan masyarakat, karena ​produk tembakau tersebut berlindung di balik status rokok sebagai produk ​legal, yang memberikan kontribusi terhadap keuangan negara dari cukai rokok, ​tanpa ​disadari bahwa justru zat adiktive dari nikotin tembakau tersebut secara ​terbuka sedang menghancurkan upaya besar membangun kualitas dan ​daya ​saing bangsa yang merupakan mainstreamnya misi dunia pendidikan.

Sudah waktunya dunia perguruan tinggi, terutama segenap ​jaringan APTISI untuk mengkritisi kondisi darurat nasional ancaman  ​produk tembakau, mengingat produksi rokok nasional pada tahun 2014 ​sudah ​mencapai 360 milyar batang untuk 240 juta penduduk Indonesia, ​melewati ​target road map industri, yang hanya mentargetkan sejumlah 260 ​milyar batang ​rokok pada tahun 2020.

Perkembangan konsumsi rokok di tanah air luar biasa cepat. Dalam kurun waktu kurang dari empat puluh tahun, konsumsi rokok meningkat delapan kali lipat. Pada tahun 1970 konsumsi rokok di Indonesia baru 30 miliar batang, dan ini meningkat menjadi 240 miliar batang per tahun pada tahun 2009. Data  menunjukkan tahun 2013 setidaknya konsumsi rokok Indonesia sudah mencapai 302 miliar batang. Angka tersebut menempatkan Indonesia menjadi negara dengan perokok terbanyak di Asia Tenggara. Konsummen rokok di Indonesia mencapai 46,16 persen. Secara keseluruhan, jumlah perokok aktif laki-laki dan perempuan naik 35 persen pada 2012 atau berkisar 61,4 juta perokok pada 2013 (Suara Pembaruan,  5/3/2014). Perokok ini juga masuk ke wilayah yang tidak terbatas, baik ekonomi kuat maupun masyarakat miskin. Pada saat ini, 70% masyarakat ​miskin dewasa di Indonesia adalah perokok.

Dengan berbagai iklan raksasa dan masuk ke sel-sel kegiatan masyarakat, industri rokok berhasil menstimulus masyarakat untuk tetap merokok atau menarik konsumen baru. Pasar rokok semakin hari semakin-anak. Imbauan dan ketentuan untuk mengendalikan perluasan industri rokok selama ini tidak berhasil mengendalikan laju konsumen rokok, karena masifnya industri rokok melakukan upaya, dan mandulnya regulasi yang ada, yang seakan tanpa ruh serius membatasi konsumen rokok. Menurut Lembaga Demografi UI (LD UI),  peningkatan konsumsi tembakau di Indonesia sejak tahun 1970 disebabkan oleh rendahnya harga rokok, peningkatan jumlah penduduk, peningkatan pendapatan rumah tangga dan proses mekanisasi industri rokok. Undang-Undang Cukai menetapkan bahwa tarif cukai adalah untuk menurunkan konsumsi produk tembakau dan mengendalikan distribusinya karena produk tembakau berbahaya bagi kesehatan. Namun faktanya, tarif cukai Indonesia yang tadinya berada pada tingkat yang lebih rendah dibanding negara ASEAN lainnya, sudah terus meningkat dan mencapai 57%. Ini ternyata tidak menghalangi konsumen rokok. Data dari Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan menunjukkan penerimaan cukai hasil tembakau terus meningkat dan melebihi target. Sebanyak 95,3 persen penerimaan cukai adalah dari rokok (HT).  Per 13 September 2013 pendapatan cukai mencapai Rp76,3 triliun atau 72,89 persen dari target APBN Perubahan 2013 sebesar Rp104,7 triliun.

Pencermatan menunjukkan  bahwa industri rokok bisa tampil mewah, elegan, dan menempati posisi-posisi utama dalam mempromosikan produknya. Industri rokok bisa tampil dalam event-event berkelas, memberikan bantuan dalam jumlah luar biasa, termasuk beassiswa atau sarana prasarana kampus lainnya, tampil menarik perhatian dalam setiap event besar. Dengan biaya promosi yang luar biasa, maka ini seakan meredam berbagai imbauan seadanya sebagai bagian dari produk regulasi setengah hati, yang kemudian mengalahkan gerakan publik yang sampai sekarang tertatih-tatih berhadapan dengan gurita industri rokok tersebut. Indudstri rokok raksasa ini bagaikan “mafia” yang mampu mengendalikan kebijakan untuk kepentingannya. Kejanggalan dibalik sempat hilangnya ayat “tembakau” dalam UU tentang Kesehatan 2009 patut diduga adanya peran dari industri ini demi mengamankan kepentingan bisnisnya. Penghasilan industri rokok memang luar biasa, dan bisa menjadikan pemiliknya sebagai bagian dari orang terkaya di Indonesia. Dengan fakta demikian makan tidak mengherankan kalau konsumen rokok terus bertambah, dan kerugian sosial-ekonomi semakin bertambah bagi masyarakat secara keseluruhan.

Melihat berbagai fakta itu, kampus memang tidak seharusnya hanya menjadi penonton dan bersikap pasif. Kampus perlu mempelopori dan menciptakan gerakan mengendalikan konsumsi rokok ini. Ini menjadi lebih bermakna lagi mengingat kampus yang merupakan bagian dari elit generasi muda menjadi sasaran utama bagi industri rokok. Sebagai bagian elit pemuda maka perilakunya bisa menjadi panutan pemuda lainnya. Dengan demikian banyaknya insan kampus yang merokok bisa menjadi promosi gratis bagi industri rokok. Untuk mencegah hal itu, maka kampus perlu dibersihkan dari asap rokok dengan membebaskannya dari asapo rokok sama sekali. Imbauan agar seluruh kampus menerapkan KTR merupakan bagian yang diharapkan dapat dilakukan oleh semua kampus.@@@

Lampiran

PEMENANG APTISI AWARDS TAHUN 2015

MODEL
1. IKIP Saraswati Tabanan, Denpasar
2. Universitas Islam Sultan Agung Semarang.
3. Universitas Muhammadiyah Prof.Dr.HAMKA (UHAMKA)
4. Universitas Islam Riau
5. Universitas Bina Darma Palembang

MAJU
1. Universitas Mahendradata Denpasar
2. STIKES Karya Husada, Semarang
3. STKIP PGRI Tulung Agung
4. STMIK Global Informatika MDP Palembang
5. STIKES Kendedes, Malang
6. STIMIK Primakara, Denpasar

BERKEMBANG
1. AKPAR Muhammadiyah Aceh
2. STIMIK STIKOM Bali

HARAPAN/TUMBUH
1. Universitas Sari Mutiara Indonesia Medan
2. Universitas Narotama Surabaya
3. Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) Bandung
4. Universitas Hindu Indonesia Denpasar
5. Universitas Dhyana Pura Bali
6. Universitas Bina Nusantara, Jakarta
7. Universitas Baturaja, Sumatera Selatan
8. STIKes Perdhaki Charitas Palembang
9. STIKES Bali
10. STIPAR Triatma Jaya, Bali
11. Sekolah Tinggi Pariwisata Bali Internasional
12. Sekolah Tinggi Desain Bali
13. Politeknik Akamigas Palembang
14. IKIP PGRI Jember
15. IKIP PGRI Bali
16. AMIK Bina Sarana Informatika

 

Pernyataan Sikap APTISI pada RPPP ke-7 di Batam

Comment :

Leave Your Footprint