APTISI Dukung Penguatan Kelembagaan

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA — Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) mendorong anggotanya untuk terus memperbaiki kelembagaan perguruan tinggi (PT). Hal itu untuk menjawab persoalan-persoalan besar bangsa dan juga untuk menghadapi persaingan yang semakin terbuka.

Demikian diungkapkan Prof Edy Suandi Hamid, Ketua Umum APTISI kepada wartawan menjelang Rapat Pengurus Pusat Pleno (RPPP) ke-7 APTISI di Yogyakarta, Senin (30/3). RPPP akan dilaksanakan di Batam, Kepulauan Riau, Rabu-Jumat (1-3/4).

Lebih lanjut Edy mengatakan RPPP ke-7 akan diikuti sebanyak 200-an peserta dari seluruh perguruan tinggi swasta di Indonesia.

Narasumber yang berbicara dalam forum ini Menristek Dikti Prof M Nasir, Gubernur Kepulauan Riau, motivator ESQ Dr Ary Ginanjar Agustian, Ketua Badan Akreditasi Nasional PT Prof Mansyur Ramli, dan Brook W Ross dari Indonesia Education Partnerships.

PTS, kata Edy, harus melakukan penguatan kelembagaan agar dapat memberikan kontribusi optimal bagi bangsa dan bisa bertahan untuk menjalankan misi pendidikanya.

“Karena itu, Rapat Pengurus Pusat Pleno ke-7, kali ini mengetengahkan tema ‘Penguatan Kelembagaan untuk Peningkatan Mutu Pendidikan Tinggi’,” kata Edy.

Rapat ini, kata Edy, merupakan salah satu agenda rutin nasional tengah tahunan APTISI yang bertujuan membahas dan merumuskan solusi atas berbagai isu penting di bidang pendidikan. Hasil rapat akan dituangkan dalam kebijakan dan strategi dalam program-program aksi APTISI kedepan.

Pemilihan tema ini, jelas Edy, terkait dengan kondisi faktual perguruan tinggi di tanah air yang banyak memerlukan perhatian ekstra dan melakukan akselerasi peningkatan kualitasnya. Menyusul akan segera diberlakukan Asean Economic Community (AEC) 2015, menjadi tantangan PT untuk meningkatkan dayasaingnya, yang berarti juga meningkatkan mutu PT nasional.

Keterbukaan berarti juga internasionalisasi dalam dunia pendidikan tinggi ini, termasuk Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Aspek pendidikan adalah salah satu bagian jasa yang diatur dalam kesepakatan GATS (General Agreement on Trade in Services). Pendidikan dimasukkan sebagai komoditas jasa yang dapat diintegrasikan dalam arus global.

Karena itu, kata Edy, sangat wajar jika tren internasionalisasi pendidikan saat ini terus tumbuh. Kebutuhan masyarakat Indonesia untuk mengakses pendidikan tinggi juga terus mengalami pertumbuhan setiap tahunnya.

“Tidak mengherankan jika kemudian perguruan tinggi asing pun mulai melirik peluang ini untuk menyelenggarakan pendidikan di tanah air. Kita bisa bertahan dari persaingan tersebut jika perguruan tinggi kita kuat dan bermutu,” katanya.

 

Sumber : Republika Online

Comment :

Leave Your Footprint