Liberalisasi ASEAN : Tidak Ada Sanksi bagi Negara yang Tidak Melaksanakan Komitmen MEA Harus Serius Dijalankan

UntitledYOGYAKARTA. – Indonesia diharapkan dapat mendapatkan manfaat dari penerapan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada akhir bulan depan. Melalui penerapan pasar tunggal di Asia Tenggara, hubungan ekonomi antarnegara ASEAN akan meningkat pesat.

Ketua Umum Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi), Edy Suandi Hamid menilai MEA akan mendorong peningkatan kerja sama perdagangan, investasi, keuangan, jasa, dan ketenagakerjaan antar negara ASEAN. Karenanya, menurut supervisor di Universitas Trilogi Jakarta tersebut, pelaku ekonomi Indonesia perlu aktif dan serius menghadapi MEA.
Dia menambahkan keseriusan semua anggota ASEAN untuk melaksanakan semua komitmen yang ada sangat penting. Basis kerja sama ini, lanjutnya, adalah sukarela sehingga dituntut integritas dari semua anggota.

“Ini dikarenakan tidak ada sangsi bagi negara yang tidak melaksanakan komitmen yang sudah disepakati,” ujar Edy dalam pernyataan tertulisnya kepada Koran Jakarta, Minggu (22/11).
Menurut dia, kalau kerja sama ini dilakukan secara baik dan semua anggota mengedepankan keunggulan komparatifnya masing-masing, tidak akan ada negara yang dirugikan dari skim MEA ini. Semua negara, lanjutnya, akan memperoleh keuntungan baik besar maupun kecil.
“Jadi, ini bukan zero sum game, ada yang untung dan ada yang dikorbankan, melainkan situasi sama-sama untung,” ujar Wakil Ketua Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia ini.
Seperti diketahui, MEA akan diterapkan pada akhir Desember 2015. Dengan populasi ASEAN sekitar 600 juta jiwa, sejumlah anggota optimistis penerapan pasar tunggal regional tersebut dapat mendorong kinerja perekonomian masing-masing negara.

Keuntungan Ekonomi
Perdana Menteri (PM) Malaysia, Najib Razak memperkirakan pertumbuhan ekonomi wilayah ASEAN dengan implementasi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada 2025 dapat mencapai tujuh persen. Menurut Najib, dengan liberalisasi dan integrasi kawasan ASEAN menjadikan peran ASEAN di dunia menjadi lebih besar. Saat ini, GDP kawasan ASEAN mencapai sekitar 2,5 triliun dollar AS.
“Ada keuntungan ekonomi hingga ratusan miliar dolar AS dengan liberalisasi dan integrasi kawasan ini,” kata Najib Razak dalam pidato pembukaan KTT ASEAN di Kuala Lumpur, Malaysia, akhir pekan lalu.

Menurut Najib, implementasi ASEAN Free Trade Area (AFTA) selama ini mengurangi tarif menjadi nol atau mendekati nol. Pengurangan tarif itu menurunkan harga barang sehingga rakyat memiliki lebih banyak uang untuk keluarganya.

Di pihak lain, para ekonom ASEAN yang tergabung dalam Federation of ASEAN Economic Associations mengakui pimpinan negara-negara Anggota ASEAN sudah lama berupaya keras dan mengambil langkah penting untuk meningkatkan kerja sama dan mengintegrasikan ekonomi dari anggotanya. Sayangnya, sejauh ini, capaian hasil dari kerja sama sebelumnya masih jauh dari yang diharapkan.

 

Sumber : Koran Jakarta.Com

Comment :

Leave Your Footprint