Pemerintah Perlu Dorong Pendidikan Jarak Jauh untuk Peningkatan Akses Pendidikan Tinggi

IMG_8772 IMG_8766 IMG_8788

 

JAKARTA – Sistem Pendidikan jarak jauh merupakan langkah strategis untuk dapat meningkatkan daya tampung perguruan tinggi, dan juga meningkatkan angka partisipasi kasar (apk) pendidikan tinggi di tanah air. Oleh karena itu, pemerintah perlu memberikan stimulus agar PT-PT untuk melaksanakan PJJ ini agar akses masuk masyarakat untuk mengenyam pendidikan tinggi menjadi lebih luas. PT-PT yang siap dan bereputasi baik diharapkan juga untuk segera melaksanakan ini payung hukumnya juga sudah ada baik Undang-undang maupun Permendikbud Nomor 109 tahun 2013.

Demikian disampaikan Ketua Umum Aptisi pada pembukaan Pelatihan dan Implemtasi SPJJ Berbasis E-Learning Selasa 3/11 di Hotel Atlet Century Jakarta. Pelatihan diikuti 50 peserta dari berbagai wilayah di tanah air. Materi pelatihan antara lain diberikan Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Ilmu Komputer (APTIKOM) Pusat yang juga Ketua Badan Sertifikasi Nasional Pendidikan Prof Ir Zainal Arifin Hasibuan MSc, dan pakar telematika Prof R Eko Indrajit MSc.

Dikatakan, dengan keterbatasan tenaga dosen, sarana prasarana, maka PJJ yang didukung dengan perangkat teknologi informasi maka hambatan itu bisa diredusir. Proses belajar mengajar tetap bisa dilakulan. Kampus tidak lagi harus direpotkan dengan soal rasio-rasio dosen-mahasiswa, walaupun kebutuhan dosen kompeten dalam jumlah memadai tetap dibutuhkan.

Namun demikian diingatkannya bahwa standar kualitas PJJ tetap harus sama dengan sistem pendidikan tatap muka atau yang konvensional. Tidak boleh dengan PJJ lantas menggampangkan, dan menganggap lebih mudah peroleh ijazah. Kalau asumsinya asal lulus, maka itu menyimpang dari filosopi pembukaan PJJ itu.

Dikemukakan, kita memang berupaya untuk meningkatkan kesempatan bagi masyarakat utuk mengenyam pendidikan tinggi. Dan ini sangat terbantu dengan PJJ yang di banyak Negara maju sudah lama dikembangkan, bahkan berjangkauan internasional. Namun perlu diingatkan bagi kita tetap tidak boleh mengorbankan kualitas.

Dalam PJJ, memang proses pendidikan sangat terbuka tanpa ada batasan usia, tahun ijazah, atau lainnya. Namun di sini mahasiswa dituntut mandiri untuk melakukan pendalaman atas apa yang dia pelajari. Kesadaran diri sendiri menjadi sesuatu yang sangat penting agar bisa berhasil baik dalam mengikuti PJJ.

PJJ dapat diselenggarakan melalui modus tunggal, ganda, dan modus konsorsium. Modus tunggal apabila diselenggarakan pada semua matakuliah atau prodi; ganda apabila kombinasi tatap muka dan PJJ, dan modus konsorsium diselenggarakan melalui jejaring dengan lingkup satu PT ataupun antar PT nasional dan internasional.

Saat ini selain Universitas Terbuka (UT), kini sudah ada enam PT yang melakukan PJJ, yaitu Universitas Bina Nusantara (BINUS), Universitas Indonesia (UI), Universitas Gajah Mada (UGM), Institut Teknologi Surabaya (ITS), Institut Teknologi Bandung (ITB) dan AMIKOM Yogyakarta.

Kegiatan Pelatihan ini didukung oleh AMIK BSI Jakarta dan STMIK-STIBA Nusa Mandiri Jakarta

Comment :

Leave Your Footprint