Besar Potensi Ekonomi Islam dalam MEA

IMG-20151202-WA102 IMG-20151202-WA101

 

Kerja sama ekonomi untuk melaksanakan ekonomi Islam dalam praktik perlu dilakukan, termasuk di antara negara-negara anggota ASEAN, terutama dengan akan dilaksanakannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang akan dimulai akhir bulan ini. Ini mengingat masih banyaknya persoalan dalam Komunitas Islam di dunia. Penduduk muslim yang sekitar 20% dari penduduk dunia hanya memberi kontribusi pada GDP dunia kurang dari 6,6%. Ini berarti umat Islam relatif miskin dibanding lainnya. Demikian Keynote Speech yang disampaikan Ketua Umum APTISI Prof Edy Suandi Hamid dalam 1st World Islamic Social Science Congress, di PICC Putrajaya, Malaysia, kemarin. Edy menyampaikan pidato berjudul “The Potentials and Challenges of Islamic Economy under ASEAN Economic Community (AEC) Scheme”. Forum yang diadakan oleh Universiti Sultan Zainal Abidin Trengganu berlangsung 1-2 Desember 2015 dan diikuti sekitar 500 peserta dari beberapa negara Islam.
Dikatakan, sebanyak 39% penduduk muslim hidup di bawah garis kemiskinan, padahal hanya 9,6 penduduk dunia yang miskin. Juga hanya 10% umat Muslim yang meraih pendidikan tinggi, dan hanya 1,5% yang terlibat dalam knowledge production atau industri kreatif. Oleh karena itu, diperlukan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari dari Umat Islam.
Terkait MEA, dikatakan Ekonomi Islam atau Halal Industri bisa diharapkan memainkan peran penting dalan skim MEA. Ini dikarenakan negara-negara ASEAN memainkan peran signifikan dan merupakan pemain-pemain kunci dalam ekonomi Islam secara global, baik sebagai konsumen maupun produsen.
Secara keseluruhan, tiga Negara anggota ASEAN, Malaysia, Indonesia, dan Brunei, masuk dalam 15 Ekonomi Islam terbesar dunia, bersama Uni EMirat Arab, Bahrain, Qatar, Saudi Arabia, dan negara Islam lainnya. Berdasarkan Global Islamic Economy Index Score, Malaysia berada pada posisi paling tinggi atau peringkat pertama, diikuti Indonesia pringkat 12 dan Brunei ke 13. Malaysia mencapai itu terutama berkat aktivitas di makanan halal, keuangan Islam, dan farmasi serta kosmetik.
Negara nonmuslim seperti Singapura dan Thailand juga nerupakan pemain penting ekonomi Islam. Singapura mengembangkan wisata, dan juga farmasi dan kosmetik yang Islami. Sementara Thailand merupakan pengekspor terbesar makanan halal di Asean.
Edy menyatakan juga fashion merupakan potensi besar bagi ASEAN. Dikatakan, belanja muslim untuk produk pakaian dan alas kaki mencapai $ 266 juta tahun 2013. Ini bisa dimanfaatkan oleh anggota ASEAN. Adanya MEA akan mendorong efisiensi di ASEAN dan meningkatkan peluangnya masuk ke perekonomian intra-ASEAN dan global. Untuk itu ujarnya, Anggota ASEAN perlu secara bersama untuk memilki komitmen untuk mengembangkan ekonomi Islam tersebut.

MOU

Dalam kesempatan itu, dilakukan penandatanganan MOU antara UniSZA dengan 30 Perguruan Tinggi Swasta Indonesia, yang berasal dari Jakarta, Surabaya, Medan, Palembang, Cianjur, Lampung, Gresik, Kalimantan Timur, dan sebagainya.

Comment :

Leave Your Footprint