Hadapi MEA, Dosen dan PT Di Indonesia Terjebak Rutinitas

2015-12-27_ 00-18187_1_HADI

Menghadapi era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang sudah di depan mata kalangan dosen dan Perguruan Tinggi (PT) di tanah air masih terjebak pada  aktivitas yang bersifat rutin. Sebab itu, harus dilakukan terobosan ekstra kerja keras menyongsongnya. “Kita harus mengakui, baru sebatas terkaget-kaget dengan MEA. Secara umum belum terlihat aksi kongkret dan ada langkah-langkah khusus menghadapi MEA. PT kita, terlebih PTS masih disibukkan urusan rutin terkait memenuhi rasio dosen mengurus akeditasi atau promosi mencari mahasiswa. Ini tak terelakkan,” papar Ketua Umum Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta se Indonesia (Aptisi), Edy Suandi Hamid saat dihubungi Media Indonesia, kemarin.

Dengan kondisi itu, lanjut Edy, akibatnya, tantangan besar di depan dihadapi dengan sikap yang biasa-biasa dan ini akan membuat PT kita kesulitan bersaing pada level Asean terutama berhadapan dengan PT dari Singapura, Malaysia, Thailand, atau Filipina. Mantan Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta ini mengingatkan bahwa pengangguran lulusan pendidikan tinggi  mencapai 600 ribu orang. Padahal lowongan kerja banyak, namun tak terisi.” Ini karena  kompetensi lulusan yang kurang, atau bidang ilmunya berbeda dengan yang dibutuhkan pasar, atau juga karena kalah bersaing,” cetusnya.

Karena itu, hemat dia, PT tidak bisa hanya as usual. Tapi harus ekstra kerja keras agar lulusannnya memunyai bekal keilmuan di atas rata-rata memiliki keterampilan kerja yang cukup dan memiliki soft skills yang tinggi sehingga dapat memenuhi tuntutan pasar dan berkompetisi di pasar Asean. Guru Besar Ekonomi UII ini menyarankan kalangan PT perlu memberikan bekal pelajaran bahasa asing terutama bahasa inggris, lebih baik lagi jika dapat memilki kemampuan bahasa Asean lainnya.

“Ini belum banyak dilakukan PT kita. Untuk bisa menghasilkan lulusan berkualitas, maka dosenn harus lebih berkualitas lagi. Pada era liberalisasi Asean ini pengembangan dosen harus terus menerus dilakukan PT. Iklim untuk studi lanjut harus dibangun dianggap sebagai kebutuhan baik bagi dosen maupun lembaganya,”cetus Edy. Hemat dia, pengembangan dosen bukan hanya sekedar pendidikan formal juga diberi berbagai pelatihan yang dapat meningkatkan kompetensi dan spesialisasi di bidangnya.

Sebab itu, para dosen perlu mengikuti berbagai pelatihan, kursus, seminar, melakukan riset, dan mendialogkan pemikirannya dengan mempublikasikan karya ilmiah pada jurnal ilmiah baik lokal maupun internasional. Selain itu, bisa menulis buku teks ataupun buku referensi. Ini berarti lembaga pendidikan tinggi harus memfasilitasi dan menstimulus para dosennya untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan tersebut. Persoalannya lanjut Edy, perguruan tinggi terkadang tidak menganggarkan dana yang cukup untuk kegiatan-kegiatan tersebut sehingga kurang memperhatikan aspek seperti ini. Sedang di sisi lain sebagian besar para dosen terbatas kemampuan finansialnya. (Bay)

 

Sumber : Mediaindonesia.com

Comment :

Leave Your Footprint