Pembinaan PTS Harus Substantif

(Disampaikan Prof Edy Suandi Hamid Ketua Umum Aptisi dan Wakil Ketua Majelis Pendidikan Tinggi dan Litbang PP Muhammadiyah serta Adviser Universitas Trilogi Jakarta dalam Wisuda di Universitas Muhammadiyah Malang, Sabtu 28 November 2015 di Kampus UMM. Hadir juga anggota Wantimpres Prof A Malik Fajar, Sekretaris Pelaksana Kopertis VII Prof Ali Ma’sum, Wisuda dilakukan Rektor UMM Prof Muhajir Effendi, yang diikuti : 840 Wisudawan dari S1, S2, dan S3.)

 

Pembinaan Perguruan Tinggi haruslah dengan semangat untuk menjadikan lebih baik, bukan sebaliknya, dan tidak mengedepankan hukuman. Pembinaan mengedepankan edukasi dan persuasi, bukan dengan ancaman dan sangsi.
Para pejabat harus berpikir bahwa PT masyarakat itu sangat dibutuhkan dan membantu meringankan tanggung jawab pemerintah, oleh karena itu harus dihargai dan dijadikan mitra yang saling menghargai, saling melengkapi, dan seling membutuhkan.
Oleh karena itu, pembinaan harus terukur, dengan pendampingan, pengawasan, bahkan dukungan sarana dan prasarana termasuk sumber daya manusia agar perguruan tinggi dalam pembinaan segera aktif dan tetap dalam pengawasan direktorat terkait di Kemenristekdikti dan Kopertis.
Ada baiiknya setiap PTS bersama Kopertis, dan bila perlu juga dengan Aptisi yang ada di wilayahnya, diminta untuk membuat rencana perbaikan ke depan sampai bisa memenuhi ketentuan yang ada. Dengan demikian dapat dipantau langkah-langkah yang perlu dilakukan, dan diketahui progresnya dari waktu ke waktu.

Wisuda

Edy Suandi Hamid juga mengatakan, pada para wisudawan untuk tidak berhenti belajar. Kalau bisa melanjutkan jenjang pendidikan formal lebih tinggi, seperti S2 dan S3 itu sangat baik, karena kita masih kekurangan lulusan pascasarjana. Kampus-kampus kesulitan untuk menambah dosennya. Untuk itu, lulusan-lulusan terbaik diharapkan bisa melanjutkan studinya lagi.
Kita jauh tertinggal lulusan pascasarjana dibandingkan dengan Singapura, Malaysia, Filipina ataupun Thailand dan India. Untuk itu para lulusan baru didorong mencari beasiswa untuk studi lanjut tersebut.
Jumlah tenaga terampil di Indonesia juga sangat terbatas. Menurut data Asian Productivity Organization, hanya 4,3% dari 1000 tenaga kerja kita yang terampil; sedangkan di Malaysia dan Singapura sudah mencapai 32 dan 34 persen.
Oleh karena itu, di luar pendidikan formal, para lulusan PT ini bisa juga terus belajar secara informal maupun nonformal. Prinsipnya, belajar itu tiada hentinya sampai akhir hayat. Terlebih ilmu pengetahuan berkembang pesat, dan peradaban manusia semakin maju, sehingga setiap insan harus mengikuti itu dengan secara terus menerus menambah pengetahuannya.

 

IMG-20151128-WA137
Rektor Prof Muhajir Effendi menerima Piala Team Paduan Suara UMM yang memenangakan suatu kejuaraan paduan suara di Itali

Comment :

Leave Your Footprint